Happiness

HAPPINESS
By Sendy

“Hidup itu untuk apa?” Pertanyaan yang sangat simple, tapi mengandung arti dan makna yang dalam. Apa arti kehidupan? Saat ditanyakan hal itu di usia yang masih muda, entah dari mana, dan bagaimana, aku menjawabnya dengan tegas, “Mencari kebahagiaan.” Ibuku yang mendengar jawabanku langsung menatap dengan tatapan tak percaya. Ucapan tersebut keluar begitu saja dari anak kecil berusia sepuluh tahun, siapa yang bisa mempercayai hal itu. Mungkin hanya seorang anak jenius yang dapat menjawab seperti itu. Namun, itu bukan aku. Aku jauh dari kata, ‘Anak jenius’.

Sejujurnya, aku hanya menjawabnya sembarangan. Aku bahkan tidak tahu arti dari jawabanku itu sendiri. Kebahagiaan? Emangnya aku masih membutuhkannya? Kegiatanku sudah dipenuhi dengan kebahagiaan. Makan, bermain dengan teman, berlari-lari. Semua hal itu sudah membuatku bahagia. Akan tetapi, hal ini terpikir olehku lagi, saat aku, entah bagaimana, berhasil meraih prestasi tertinggi di masa terakhir SD-ku. Orang tuaku sangat bangga denganku, begitu juga dengan kakak-kakakku. Mereka memberiku semangat, pujian, harapan, dan bahkan memberikanku hadiah atas prestasi yang kucapai. Dari sana, aku dapat menyimpulkan, inilah kebahagiaan. Aku menerima kebahagiaan, begitu juga mereka. Aku ingin hal ini mewarnai hidupku ke depannya. Aku bertekad untuk terus belajar bersungguh-sungguh agar dapat membanggakan mereka dan membantu mereka dengan keberhasilanku di masa yang akan datang. Semuanya demi kebahagiaan.

Hidup memanglah sebuah jalur bercabang tanpa akhir. Semasa SMA, aku merasa seperti telah jatuh ke lubang yang tidak ada dasarnya. Aku dipercayai untuk mengikuti perlombaan olimpiade sains nasional (OSN). Awalnya, aku sangat percaya diri. Namun, lama kelamaan, mereka mulai berharap lebih padaku. Para guru, orang tua, kakak-kakak, bahkan teman-temanku sendiri. “Banggakan sekolah kita!” kata guruku. “Kamu pasti bisa, bawa pulang piagamnya ya.” kata kakakku. “Ngapain belajar lagi, sudah pasti menang kok.” kata teman-temanku. Aku merasa ditancapkan setumpuk jarum bernama ‘Harapan’ di seluruh tubuhku. Aku merasa… tertekan. Semua orang berharap padaku. Mereka berpikir aku pasti bisa. Namun, apakah aku bisa? Bagaimana jika aku gagal? Mereka pasti kecewa padaku. Pada akhirnya, aku tidak akan bisa memberikan kebahagiaan. Baik pada mereka, maupun diriku sendiri. Pikiran itu menghantuiku, hingga kegagalan menyapaku.

Apa itu kebahagiaan sebenarnya? Pertanyaan itu kembali merayap isi kepalaku. Entah dari mana, aku mulai memikirkan, apakah ada momen-momen di mana aku merasa bahagia tanpa sadar. Aku terbawa ke masa itu, saat itu. Masa di mana aku mengunjungi kakakku yang sedang liburan semester perkuliahan. Pada malam terakhir kunjunganku, kami tidak merayakannya di luar. Kami tidak pergi ke tempat makan istimewa. Kami tidak pergi menonton bioskop. Kami hanya berselimut di kost kakakku, mencurahkan isi hati kami satu sama lain. Mulai dari kakak tertuaku yang sering kami jahili. Ibu kami yang sering mengomeli kami. Ayah kami yang dingin, namun perhatian. Nenek kami yang selalu menanyakan kabar cucunya. Cinta monyet kami. Hingga subuh menghampiri. Kami tertawa. Tersenyum. Bersedih. Bergurau. Kami bahagia. Aku bahagia. Itulah saat aku bahagia.

Momen kecil yang bahkan tak pernah kupikirkan sebelumnya, membawa kebahagiaan yang begitu besar bagiku. Aku akhirnya paham. Kebahagiaan bukanlah saat aku menentukan kapan aku dapat mencapainya. Kebahagiaan hanyalah momen yang begitu sederhana, momen yang bahkan tak kusadari. Saat aku merenungkannya lagi, ternyata banyak sekali momen kebahagiaan yang telah terlewatkan di pikiranku. Saat di mana hujan begitu lebat, aku dan kakak-kakakku diam-diam bermain hujan hingga besoknya kami semua jatuh sakit dan dimarahi Ibu kami. Saat di mana, Ibuku mengajariku bermain sepeda untuk pertama kalinya. Saat di mana, Ayahku bermain layang-layang bersamaku.

Hadiah atau barang-barang yang kudapat bukanlah kebahagiaan abadi. Mereka hanya bersifat sementara. Pertama saat mendapatkannya, kita akan bersenang ria. Apakah kita dapat menjamin, tiga tahun mendatang kita masih seperti itu? Kebahagiaan bukanlah materi yang bisa datang, dan pergi begitu saja. Kebahagiaan bukanlah hal yang ingin kita capai. Kebahagiaan adalah sebuah momen. Momen yang istimewa, yang sulit terulang kembali. Setiap memikirkannya, kita akan tersenyum sendiri. Setiap memikirkannya, kita akan mengeluarkan air mata sendiri. Itulah arti kebahagiaan bagiku.

Apa arti kehidupan? Jawabanku adalah mencari kebahagiaan. Aku telah menemukan kebahagiaanku. Bagaimana denganmu?