Menyapa Kathina dengan Jiwa Muda

Menyapa Kathina dengan Jiwa Muda

oleh: Mei Sinta Vindi Esfri


Perayaan Kathina mungkin terdengar asing di telinga pemeluk agama selain Buddhis. Namun, Kathina sendiri menjadi momen yang ditunggu dan menyimpan memorandum cukup dalam bagi umat Buddhis. Kathina biasanya dirayakan seiring bulan purnama pada bulan Oktober. Kathina sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang menurut S. Wojowasito merupakan sebuah kata sifat yang mengandung makna keras, kuat, dan kokoh. Kathina juga disematkan untuk sebutan kain jubah yang berasal dari katun karena konon para Bikkhu jaman dahulu menggunakan kain bekas pembungkus mayat apabila tidak mendapatkan pemberian dari umat. Terlepas dari itu semua, Kathina menjadi sebuah upaca perayaan untuk melakukan persembahan atau berdana. Dana yang dilakukan saat perayaan Kathina disebut dengan Dana Kathina dan biasanya diaksentuasikan untuk Kathina Civara Dana (persembahan jubah Kathina) kepada Sangha Bikkhu. Dana atau persembahan sewaktu Kathina memiliki nilai yang lebih unggul daripada hari-hari biasa. Mengapa? Persembahan atau berdana pada bulan Kathina memiliki keistimewaan karena melakukan kebajikan kepada Bikkhu yang merupakan orang yang dipercaya sebagai orang yang dapat membina diri, sehingga pahala berdana saat perayaan Kathina lebih tinggi. Memberikan persembahan kepada orang yang berkubang dalam kemoralan dianggap lebih berpahala karena persembahan tersebut tentunya digunakan dalam lingkup kebaikan.

Generasi millennial saat ini khususnya pemeluk Buddhis mungkin merasa tidak menyukai hal-hal yang berbau ribet dan menyusahkan. Perayaan-perayaan yang biasanya membutuhkan ritual atau disiapkan dengan pelengkapan yang banyak dihindari oleh generasi millennial. Namun di situlah letak keunikannya, generasi di atas millennial atau baby boomer yang sekarang mungkin sedang memangku tanggungjawab sebagai orang tua memiliki peran fundamental untuk mengajarkan arti tradisi dan budaya kepada anak-anaknya. Kontradiksi dengan generasi baby boomer yang tekun dan menyukai rutinitas, generasi millenial lebih cepat bosan dan menyukai hal-hal baru. Pelajaran filosofis dan tradisi perlu ditekankan agar generasi millenial tidak meninggalkan ajaran-ajaran agama. Cerita-cerita perjuangan para dewa ataupun Bikkhu dapat disebarluaskan agar generasi muda dapat mempelajari hikmah dan mencontoh semangat juang tokoh terdahulu. Seperti saat perayaan Kathina, generasi muda akan menganggap ini sebagai momentum yang cukup langka. Upacara perayaan yang dirayakan setahun sekali dapat dibuat sebagai bahan untuk memposting story atau foto dan diupload di media sosial. Melakukan siaran langsung terkait prosesi agar dapat streaming dari berbagai tempat juga membuat sebuah perayaan lebih praktis dan sebagai alternatif untuk yang berhalangan hadir namun tetap ingin merasakan euphoria Kathina. Dengan adanya siaran langsung melalui media sosial tentunya banyak masyarakat menjadi lebih mengenal tentang tradisi di Buddhis. Hal itu tentunya membuat generasi millenial lebih bersemangat. Selain itu, Kathina juga melatih  jiwa lapang dada, ikhlas, dan juga sikap rela. Setiap umat Buddhis dituntut untuk memberikan, merelakan, dan mempersembahkan. Sebuah perbuatan yang cukup sulit karena dapat dianggap bahwa semua manusia menyukai uang dan menyukai harta. Namun, di momen spesial ini ada harga yang lebih dalam dirogoh untuk mendapat pahala yang lebih berganda. Berdana saat Kathina dapat saja dianggap sebagai kegiatan yang memaksa kita mengeluarkan sedikit harta. Seperti sebuah kewajiban yang diikhlaskan dan tidak perlu disesali. Layaknya kuota habis dan langsung merogoh uang untuk membeli, layaknya bensin yang habis kemudian diisi. Sesederhana itu. Berdana saat Kathina juga harus ditanamkan sebagai kewajiban yang tidak perlu disesali. 

Nah pada intinya, Kathina untuk generasi millenial dapat digunakan sebagai ajang untuk melatih keikhlasan juga sebagai penghormatan dalam menjalankan ajaran agama Budha. Seperti menghargai tradisi turun-temurun yang masih ada dan merupakan kekhasan budaya. Jadi, sebagai generasi muda harus mampu beradaptasi dengan lebih kreatif dan inovatif. Generasi millenial dapat memberikan sumbangsih terkait ide tentang perayaan upacara keagamaan tanpa meninggalkan tradisi. Bukan bermaksud untuk mengubah, namun lebih menyeimbangkan antara tradisi dan globalisasi sehingga berjalan dinamis. Hal tersebut tentunya membuat Buddhis semakin eksis di generasi millenial kan? Generasi millenial biasanya memiliki pola pikir yang lebih kreatif. Konsep ajaran agama Buddhis seharusnya tidak terbatas teori saja, melainkan pola pikir ajaran yang semakin melebar mengikuti perkembangan zaman. Teori yang sudah dipelajari harus lebih direnungi dan dipraktekan dengan benar. Generasi millenial lebih maju perihal teknologi digital. Hal ini perlu diseimbangkan dengan ajaran agama. Adanya pembaharuan teknologi perlu diafirmasikan lagi. Seperti dokumentasi terkait upacara-upacara keagamaan baik secara live maupun after report. Pembuatan poster untuk mengundang perayaan Kathina di vihara. Podcast untuk siaran maupun lagu-lagu ajaran agama. Maupun mengandalkan video tiktok yang sekarang sedang membumi di Nusantara. Konten-konten di media sosial tidak selamanya berefek buruk bagi generasi muda, malah konten tersebut mampu menyebarluaskan informasi sehingga lebih mendunia. Orang menjadi lebih tahu tentang banyak hal dan dapat dijadikan sebagai ilmu ataupun pengetahuan. Anggap saja agama seperti sebuah produk, maka untuk menarik perhatian dibutuhkan bungkus yang menarik bukan? Nah inilah yang dapat menjadi kolaborasi menyenangkan antara generasi tua dengan generasi muda. Generasi tua dengan tradisi dan nilai leluhur yang masih dijaga juga pemegang teori dianggap sebagai penanggung jawab produk, sedangkan generasi millenial dengan jiwa kreatifnya memegang kendali terhadap bungkus kemasan, yang mana harus berupaya mengemas ajaran agama menjadi lebih baik dengan perkembangan digital. Hal-hal monoton dan membosankan dapat diubah menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Nah disitulah pentingnya entitas dari banyak pihak untuk membangun sebuah kedinamisan. Jadi, mari menyapa Kathina dengan jiwa muda.

 

 

Referensi:

Wojowasito. Kamus Kawi-indonesia. Bandung : CV Pangarang