Milenial, Si Filantropi Bermodal Ujung Jari

Milenial, Si Filantropi Bermodal Ujung Jari

oleh: Perina Amelia

Ketika mendengar kata “milenial” pasti yang akan terlintas di benak kita yaitu generasi yang melek teknologi. Tak dapat dipungkiri, karena generasi kelahiran 1980-an hingga awal 2000-an ini tumbuh ketika teknologi sedang berkembang pesat. Eksistensi mereka dalam dunia digital sudah tak diragukan. Menjadi generasi yang memainkan peran penting di dunia, generasi penggila teknologi ini acap menjadi objek studi dan survei yang bertujuan untuk menilik lebih jauh karakteristik mereka.

Salah satu studi menarik yang membahas mengenai milenial yaitu studi yang dilakukan Ipsos. Studi ini mengatakan bahwa penilaian milenial terhadap generasi mereka sendiri juga cukup buruk. Milenial digambarkan sebagai sosok yang hanya mengambil kesempatan yang menguntungkan dirinya sendiri, materialistik, egois, dan kurang peduli terhadap sekitarnya.

Lalu, bagaimana peran agama Buddha menanggapi persepsi buruk tersebut? Benarkah ‘cap’ tersebut telah mutlak menjadi identitas milenial?

Dalam ajaran Buddhis, kita mengenal kata anicca (ketidak-kekalan). Menurut Majjhima Nikaya I:228, sabbe sankhara anicca berarti segala sesuatu yang berkondisi (terbentuk dari perpaduan unsur) akan mengalami perubahan (tidak kekal). Makhluk, barang, gagasan, pemikiran, perasaan apapun, hidup atau mati tidak ada yang abadi. Boleh jadi ketika detik ini terus berputar, perubahan itu sedang berlangsung. Begitu pun dengan persepsi akan buruknya generasi milenial. Kini yang terpenting adalah bagaimana memahami bahwa hidup tidak kekal, apa saja yang tidak kekal adalah dukkha (penderitaan), apa saja yang dukkha adalah tanpa atta (diri), apa saja yang tanpa diri, bukanlah milikku, bukan aku, bukan diriku sendiri.

Mengerti bahwa persepsi buruk boleh saja mengalami perubahan tidaklah cukup. Tapi, juga harus dibarengi dengan mengerti bahwa hal-hal yang menjadi alasan munculnya pandangan tersebut juga bisa berubah dan merupakan bentuk dukkha (penderitaan). Milenial dianggap sebagai sosok yang hanya memikirkan diri sendiri, materialistik, dan kurang peduli dengan sesama artinya ada perbuatan, keinginan, kemelekatan akan hal-hal materil dan keberhasilan yang mengagumkan sehingga generasi ini melakukannya dan akhirnya dianggap demikian. Salah satu tindakan yang dapat menghentikan dukkha yaitu dengan menjadi filantropi.

Filantropi mungkin terdengar cukup asing bagi kita, namun kata ini dimaknai sebagai “kedermawanan” dan “cinta kasih” kepada sesama. Filantropi merupakan tindakan mencintai sesama melalui kepedulian dengan memberikan waktu, uang, dan tenaga untuk menolong orang lain. Bahkan dalam agama Buddha ada waktu tertentu—Kathina di mana kita diajak untuk menjadi filantropi.

Kathina merupakan sebuah perayaan ungkapan terima kasih umat Buddha kepada para bhikkhu sangha karena telah melalui masa vassa. Masa vassa dikenal dengan masa di mana para bhikkhu sangha menetap di sebuah tempat baik (seperti: vihara, hutan, maupun tempat spiritual lainnya) untuk membina diri dan membabarkam dhamma. Ketika perayaan Kathina tiba, kita sebagai milenial dapat berdana berupa empat kebutuhan pokok bhikkhu, yaitu jubah, makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal. Dengan berdana, artinya kita belajar berkorban, berbagi dengan hati tulus dan ikhlas, serta mengurangi keserakahan, kemelekatan, kebencian, dan untuk mencapai ketenangan batin. 

Mengikuti perkembangan zaman, berdana kini tak hanya harus datang langsung ke vihara tetapi banyak komunitas dan yayasan menyediakan paket-paket dana melalui media sosial yang dapat dipilih umat Buddhis untuk disalurkan oleh pihak penyedia kepada vihara/tempat tinggal bhikkhu sangha. Kita sebagai milenial hanya perlu memanfaatkan teknologi untuk mentransfer uang kepada pihak penyedia dan menunggu kabar. Hal ini mengingat tak semua milenial memiliki waktu dan tenaga untuk hadir langsung, namun semua milenial pasti terbiasa menggunakan jarinya untuk menggunakan teknologi yang ada. Tak hanya itu, dengan berdana saat Kathina di mana kita tidak bisa memilih—keterbatasan dalam mempersembahkan dana kepada bhikkhu atau sangha yang kita sukai, kita secara tidak langsung diajarkan berlatih melepaskan dan merelakan sikap batin demi kebajikan itu sendiri, bukan demi seseorang yang kita sukai atau maksud lainnya.

Filantropi ala milenial kala Kathina tak habis sampai sana, namun melalui ujung jarinya yang mahir menggunakan media sosial, milenial yang memiliki keterbatasan uang, dapat berdana dengan membantu menyebarkan info paket dana Kathina kepada teman-temannya atau info webinar yang sekarang ini banyak diselenggarakan untuk menggantikan perayaan Kathina karena kondisi dunia yang pandemi dengan pembicara bhikkhu atau bhante yang bertujuan menyebarkan dhamma. Dengan membagikan info paket dana Kathina ataupun webinar, kita meningkatkan kesadaran umat Buddha akan keberadaan para bhikkhu. Dengan begitu kita juga membantu dalam pelestarian dhamma.

Perlu diingat, dalam berdana ada 3 faktor penting yang perlu dipahami, yaitu: 

a.       Berbahagia sebelum memberi;

b.      Berbahagia saat memberi;

c.       Berbahagia setelah memberi.

Sebagai milenial, berdana haruslah dengan pikiran dan perasaan yang ikhlas sehingga kita memahami kebijaksanaan dalam berdana untuk melepaskan dukkha dan memupuk kebajikan. Tetapi perlu diperhatikan bahwa menjadi filantropi tak hanya pada saat Kathina, namun bisa kapan pun. Anggap Kathina menjadi momen khusus untuk mengingatkan kita akan kedermawanan.

Kathina bagi generasi milenial tidak hanya sekadar perayaan berdana kepada sangha, namun juga soal kesadaran akan adanya hubungan timbal balik antara sangha dan umat Buddha. Sangha membantu memenuhi kekosongan batin karena terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi dengan membabarkan dhamma untuk mengajak umat melakukan kebajikan, sedangkan umat Buddha membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari bikkhu sangha. Kita perlu sadar bahwa berdana tidak selalu harus dalam jumlah besar, bahkan dengan kemajuan teknologi hanya melalui ujung jari kita juga dapat ikut berkontribusi untuk menyebarkan cinta kasih. Semoga melalui makna Kathina, kita generasi milenial yang mendapat ‘cap’ buruk dapat mengubah ketidak-kekalan persepsi ini menjadi kebajikan melalui perkembangan teknologi. 

Semoga dengan menjadi filantropi di masa sekarang kita akan berbahagia di dunia ini, begitupun di alam berikutnya, sesuai dengan syair Dhammapada I (Yamaka Vagga):16, yaitu:

“Di dunia ini ia bergembira. Di dunia sana ia bergembira. Pelaku kebajikan, bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih.”

 

Referensi:

Ipsos.com