IMPLEMENTASI NILAI KATHINA BAGI GENERASI MILENIAL

IMPLEMENTASI NILAI KATHINA BAGI GENERASI MILENIAL

oleh: Yoseph Kurniawan

Kathina (Kathina Kala) disebut juga Civara Masa (bulan jubah) yang berlangsung satu bulan penuh setelah tiga bulan para anggota Sangha menjalani masa vassa. Masa Kathina itu dinyatakan setelah anggota Bhikkhu Sangha selesai bervassa. Di dalam massa vassa itu, para Bhikkhu Sangha melatih diri, memantapkan diri dalam Dhamma Vinaya yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha, mengajar meditasi, membabarkan Dhamma, dan mengadakan diskusi dengan para umat. Itulah serangkaian kegiatan yang memang merupakan tugas dari para Bhikkhu Sangha. Hanya bedanya, selama tiga bulan tidak meninggalkan tempat, bila tidak ada keperluan Sangha. Namun bila ada keperluan, hanya dibatasi tujuh hari.

Hari Kathina yang sering dikenal sebagai hari sangha adalah momentum bagi para umat Buddha untuk memupuk karma baik dengan mempersiapkan dan menyerahkan persembahan kebutuhan sangha. Biasanya vihara atau cetiya mengadakan perayaan hari besar ini lebih meriah dibandingkan dengan hari besar agama Buddha lainnya. Umat Buddha dari berbagai kalangan baik dari tingkat usia, ekonomi, gender maupun intensitas kehadiran di kebaktian umum akan turut berpartisipasi secara aktif pada saat perayaan Kathina.

Kegiatan dalam perayaan Kathina tidak hanya melakukan puja bakti untuk merenungkan terhadap sifat luhur sangha namun juga memberikan dana sebagai bentuk penghormatan terhadap sangha. Kathina juga dapat dijadikan sebagai latihan melepaskan atau merelakan, yaitu kerelaan terhadap materi yang seseorang miliki untuk diberikan kepada orang lain  dengan tulus. Kathina juga memiliki makna untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat keberadaan para bhikkhu, dengan kesadaran tersebut membuat seseorang sadar akan manfaat yang sangat besar saat dana kepada para bhikkhu. Manfaat tersebut karena saat berdana kepada anggota sangha yang telah mempraktekan ajaran Buddha untuk membahagiakan semua makhluk. Saat seseorang berdana, perbuatan itu merupakan perbuatan baik yang sangat besar karena umat akan berkondisi untuk menyokong anggota sangha yang memiliki pengaruh langsung positif dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Ketika seseorang merenung mengenai dana saat kathina, hal itu memiliki dampak yang sangat baik terhadap umat tersebut dan berpengaruh terhadap para bhikkhu. Sebab anggota sangha melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Buddha. Kehidupan anggota sangha berhubungan dengan kebajikan umat dan simpatisan buddhis yang dikenal dengan pindapata, saat pindapata tersebut umat akan memberikan dana kebutuhan pokok anggota sangha. Saat merenungkan makna dana saat kathina akan bermanfaat untuk mengikis kesombongan yang tersisa dalam batin umat dan anggota sangha. Sebab itu, akan dijumpai para umat menyokong kehidupan para bhikkhu saat berdana tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Walaupun pengertian ini hendaknya tidak menjadikan bhikkhu sebagai ‘pesuruh’ umat, tetapi hal itu dapat anggota sangha renungkan, kebajikan apakah dapat diajarkan untuk ‘balas jasa’ kebajikan para umat dan simpatisan Buddhis.

Dalam hal ini semua umat dan simpatisan Buddhis terutama dari kalangan generasi milenial sangat memiliki peluang besar untuk menyokong berperan dalam menyokong kehidupan para bhikkhu. Terutama, saat kathina, generasi milenial dapat berperan aktif untuk berpartisipasi dalam perayaan kathina tersebut dan juga berperan dalam hal berdana kebutuhan pokok para bhikkhu. Dana kathina tersebut dapat berupa materi yang membantu kebutuhan pokok para bhikkhu, atau mereka dapat membantu dalam perayaan kathina dengan membantu tenaga dan ide pemikiran sebagai panitia dalam perayaan kathina di vihara ataupun cetiya. Dalam membantu perayaan kathina dapat menjadi volunteer atau aktivis yang akan sangat bermanfaat dalam mendukung perayaan kathina selain mereka berdana berupa materi. Saat perayaan kathina tersebut sangat dibutuhkan volunteer dalam jumlah yang cukup banyak, oleh sebab itu peran generasi milenial akan sangat bermanfaat.

Generasi milenial dapat menerapkan dan mengimplementasikan nilai-nilai dari sifat luhur sangha, seperti tindakan para bhikkhu yang telah bertindak baik, lurus, benar, patuh, mengajarkan ajaran dhamma vinaya sang buddha untuk membahagiakan semua makhluk, dan tidak melekat pada suatu kondisi yang hanya dapat membuat seseorang menderita akan kondisi tersebut. Selain sifat luhur sangha tersebut yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ialah melatih kemoralan, melakukan perbuatan yang sesuai dengan sila, memiliki keyakinan (saddha), sadar akan rasa malu melakukan perbuatan salah (hiri) dan takut akan akibat perbuatan salah (ottapa). Memiliki perhatian (sati), belajar untuk menyelidiki dhamma (dhammavicaya), bersemangat (viriya) dalam belajar dhamma, melatih kegiuran dalam meditasi (piti), selalu  memiliki ketenangan (passaddhi) dalam melakukan tindakan, sering melakuka meditasi (samadhi), dan menjaga keseimbangan bathin (upekkha) dalam diri serta mengembangkan panna (kebijaksanaan).

Memberi dapat dilakukan dengan banyak cara terutama saat perayaan kathina, memberi dilakukan dengan berbahagia agar berdampak juga terhadap kebahagiaan orang lain. Memberi dilakukan saat tidak punya apa-apa, dengan karena tidak punya apa-apa seseorang memberi. Dengan tidak memiliki apa-apa saat memberi, kita bisa mempunyai apa-apa di masa mendatang. Memberi itu mempunyai berkah, dengan memiliki mindset bawa seseorang hari ini belum memberi itu menunjukkan nilai positif bahwa kita harus memberikan sesuatu. Orang yang berbuat baik bagaikan bayangan yang mengikuti pola tubuhnya dan sesorang yang berbuat baik maka kebaikan akan selalu mengikuti kita. Awal perbuatan baik berawal dari pikiran, jika seseorang memiliki pemikiran untuk memberi maka saat itu seseorang berhasil memberi melalui pikirin, walaupun belum memberi  melakukan melalui perbuatan. Mungkin baru ada dipikiran tetapi ingat semua berawal dari pikiran, semua berawal dari bagaimana cara kita berpikir. Buddha hanya bilang hiri dan ottapa yaitu malu dan takut untuk berbuat jahat, tidak pernah ada malu dan takut untuk berbuat baik, Pikirin harus siap untuk untuk melakukan saat memberi, memberi dapat dilakukan dengan hal sederhana dalam lingkup keluarga. Apa yang harus lakukan kita selanjutnya setelah memberi, melakukan perbuatan baik selanjutnya. Jika kita mau memberi lakukan yang baik dengan perbuatan dan pikiran.

Selalu mengingat inti ajaran Buddha dalamDhammapada XIV, 183:

 

Sabbapapassa akaranam

Ku salassa upasampada

Sacittapariyodapanam

Etam buddhana sasanam

 

Artinya :

Janganlah berbuat jahat

Perbanyaklah perbuatan baik

Sucikan hati dan pikiran

Inilah inti ajaran semua Buddha

 

Serta mempraktekan dhammapada XXIV 354 :

“Sabbadanam Dhammadanam Jinati”

Artinya: Dari segala pemberian, pemberian melalui dhamma atau ajaran Dhamma adalah yang tertinggi mengungguli semua pemberian lainnya.